Para Penghegemoni Teori Kritis

Teoir kritis tentunya tidak hanya muncul begitu saja melainkan pasti ada paara penghegemoni atau pemimpin dibelakangnya yang akan kita bahas satu satu di tulisan ini.

1. Immanuel Kant

Yang pertama ialah Immanuel Kant yang dimana ia menanyakan tentang psosisi dari ilmu sendiri karena menurut kant manusia tidak akan pernah memperoleh pengetahuan yang hakiki mengenai sesuatupun. Yang ada adalah penafsiran kita terhadap sesuatu.Kant juga berpendapat bahwa Jalan yang dipakai oleh rasio murni tanpa kritik lebih dahulu atas kemampuan-kemampuannya sendiri Oleh karena itu, Kant menekankan keharusan untuk menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio sehingga dapat dianggap sebagai suatu kebenaran

 Hal yg penting dari pengetahuan adalah bagaimana melakukan pengujian, dg jalan apa dan atas dasar apa rasio mengartikan sebuah realitasRasio kita sendirilah yang menjadi alat untuk menyelidiki perkara-perkara metafisikPengujian fakta empiris harus bebas dari dogmatis atau prasangkaPengujian dilakukan dengan melakukan dialektika atau mengambil titik tengah antara empirisme (berdasarkan pengalaman) dan rasionalisme (berdasarkan pemikiran)

Menurut kant terdapat 3 proses pengenalan yaitu

1. Pengenalan pada taraf indra yang menangkap kesan-kesan berdasarkan pengamatan indrawi dari objek yang tampak

2. Pengenalan dalam taraf akal. Tugas dari akal adalah mengatur data-data indrawi. Akal mulai melakukan pengenalan terhadap benda/materi dan dihubungkan dalam bentuk kategori-kategori yang ada dalam akal

3. Pengenalan dalam taraf rasio. Tugas rasio adalah menarik simpulan dari kategori-kategori yang dibuat akal

Salah satu filsafat Kant ialah tentang pengetahuan memberikan penafsiran baru bagi Frankfurt School dengan memasukkan sejarah sebagai pembentuk realitas yang apabila ditafisrkan maka situasi saat ini berdasarkan pengamatan maka kita tidak akan menemukan sebuah struktur realitas yang sebenarnya karena realitas yang terjadi merupakan hasil dari peristiwa masa lalu.Untuk itu sejarah juga menjadi kajian agar di dapat pengetahuan, dengan sejarah kita akan melihat terbentuknya realitas dan realitas terjadi karena kekuasaan pihak kuat terhadap pihak yang lemah ataupun berjalan secara alami.Kebenaran dan sejarah tidak ditentukan oleh kekuatan alam dan mistis tetapi ditentukan oleh manusia itu sendiri sebagai subjek perubahan




2. FRIEDRICH HEGEL

Hegel adalah seorang yang tidak menerima adanya pertentangan mutlak antara bidang akal budi teoritis (ide) dan akal budi praktis (alam atau materi) – kritik Hegel terhadap Kant Karena bagi Hegel, keduanya berasal dari satu sumber yaitu subjektif manusia. Dunia alam dan dunia kebebasan (ide) tidak saling bertentangan namun saling melengkapi. Hubungannya bersifat dialektika (anti status quo)dialektika sendiri merupakan sebuah bentuk penalaran yang menganggap segala sesuatu terdapat penentangnya dan pertentangan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang esensial.

Menurut Hegel ada 3 fase dialektika yaitu

1. Fase Pertama adalah Tesis, suatu keadaan awal tertentu

2. Fase Kedua adalah Antitesis, merupakan sesuatu yg bertentangan (kontradiksi) dengan keadaan pertama

3. Fase Ketiga adalah Sintesis. Mempunyai dua arti. Pertama, dicabut dan ditiadakan atau tidak berlaku lagi. Kedua, diangkat atau dibawa ke arah yg lebih tinggi. Kebenaran tesis dan antitesis disimpan dalam sintesis.

Menurut Hegel kritik berarti negasi atau dialektika karena bagi Hegel kesadaran timbul melalui rintangan-rintangan dengan cara menegasi atau mengingkari rintangan-rintangan itu.

 Rasio bukanlah kesadaran lengkap yang bebas dari rintangan-rintangan dalam sejarah umat manusia dan alam melainkan merupakan proses menjadi semakin sadar dan rasional justru di dalam rintangan-rintangan itu


3. Karl Marx

Pemikiran Marx Muda, yang sebelumnya ditolak pengikut Marxisme Ortodoks hal ini disebabkan adanya Anggapan bahwa kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya belum terbukti akibat perkembangan teknologi dan pemberian pesangon/bonus Maka itu, golongan revisionisme menolak pembekuan ajaran Marxisme-Leninisme.

Kritik Marx Terhadap Hegel

Kritikan Marx kepada Hegel yaitu: sepakat terjadinya dialektika dalam masyarakat tetapi dialektika yang digambarkan Hegel masih menerawang dan belum membumi maksudnya ialah Kritik dalam filsafat Hegel masih kabur dan membingungkan karena ia memahami sejarah secara abstrak karena Analisis Hegel masih dalam taraf ide atau gagasan dan belum ada pijakan gerak.Dengan asumsi tersebut, marx mematerialkan dialektika dalam sejarah sehingga melahirkan materialisme historis. Kerja sangat tergantung pada alat-alat produksi sehingga alat-alat produksi dijadikan basis penggerak masyarakat kemudian Marx membagi masyarakat menjadi dua golongan tergantung dari kepemilikan alat alat tadi yaitu kelompokn Borjuis dan Proletar.Teori Marx membuka kesadaran akan adanya mekanisme obyektif hubungan penindasan dan pemecahannya (teori dengan tujuan emansipatoris)


4. Sigmund Freud

Freud disini melakukan psikoanalisis yang dimana subyek dari psikoanalisis Freud adalah manusia yang menipu diri tentang dirinya sendiri, karena adanya mekanisme-mekanisme tak sadar dalam dirinya yang berupa tekanan2 psikis.Dengan demikian subyek psikoanalisis Freud berada dalam situasi ketidakbebasan (sama kaum proletar Marx) sehingga dapat disimpulkan bahwa Psiskoanalisis dapat dijadikan alat bantu untuk teori kritik karena Psikoanalisis dapat dipakai untuk memahami alasan golongan proletar sudah tidak mempunyai jiwa revolusioner lagi.

Analisis Freud dipakai Marcuse ketika  mengalami kebuntuan  untuk  memecahkan  masalah  manusia  yang sekarang telah menjadi satu dimensi.Ketika kaum proletar sudah tidak dipakai sebagai kelompok pengembang  kebebasan,  maka  yang  bisa  dilakukan  untuk menciptakan  perubahan  hanyalah  dekonstruksi  psikis, untuk membuka tabir kepalsuan.Dalam   analisisnya   Freud   mengenai   id   atau   prinsip kesenangan  ego  atau  prinsip  realitas  (organisasi  sosial), menjelaskan bahwa sebenarnya telah terjadi antagonisme atau kontradiksi antara dua prinsip tersebut.Kondisi yang terjadi menggambarkan prinsip realitas selalu menekankan  dorongan  kesenangan,  sehingga  untuk  dapat hidup  sesuai  dengan  realitas  sosial  dalam  masyarakat individu harus rela menunda atau menekan kesenangannya. Penundaan  akan  kesenangan  itu  kemudian  akan  muncul dalam aktivitas yang tak sadar

Pertama, dalam soal materi.dan kedua mengenai ide pemikiran mereka hampir sama dengan pemikiran dari golongan borjuis.

Psikonalisis dalam model kritis

Psikonalisis dalam model kritis dipakai untuk melihat kondisi terhegemoni atau mengritik rasionalitas yang tidak bebas. Untuk melihat penindasan ada 3 tanda yaitu :

1. Manusia pasrah terhadap kekuatan lain dan tunduk begitu saja (terhegemoni) oleh orang lain atau sistem baik itu negara ataupun partai, atau manusia berusaha menjadi kekuasaan sendiri, dengan jalan memaksakan kehendaknya kepada orang lain

2. Gejala perusakan diri sendiri misalnya yang paling ekstrim ketika tidak mampu menguasai dan mengatasi masalah maka manusia lari dengan bunuh diri atau yang ringan menjadi pencandu alkohol atau ganja

3. Manusia lari dengan jalan melakukan imitasi atau penyesuaian dengan kondisi yang sedang popular. Orang melakukan imitasi kepada teman-teman sekelompok misal ikut organisasi kiri, memakai baju marxist,dll



 Kesimpulan

 

Ciri dari tradisi Teori Kritis, memberi kebebasan subjek artinya subjek dipandang sebagai sesuatu yang utama (pusat realitas), manusia sebagai subjek mempunyai kehendak yang mampu merubah kondisi sosial dan membuat sejarah.

Teori kritis mempunyai sifat membebaskan masyarakat dari penindasan yang sifatnya semu. Hal ini harus dijelaskan dengan menumbuhkan kesadaran melalui rasio kemudian dipaparkan dengan analisis yang sifatnya psikologi namun dalam lingkup yang lebih luas yaitu masyarakat

Teori Kritis berusaha untuk menjadi praktis untuk melakukan perubahan terhadap segala realitas yang dianggap menindas atau mengalienasi manusia. Tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat emansipatoris bebas dari penindasan

Dengan kata lain teori kritis berbeda dengan teori filsafat tradisional yang hanya bersifat kontemplatif ataupun lamunan yang jauh dari kehidupan dari kehidupan manusia dalam masyarakat yang nyata. Teori kritis tidak berakhir pada paparan deskriptif namun sampai pada aksi yaitu kritis transformatif

 


Komentar

Postingan Populer