Teori POSTMODERNISME

    Benua Eropa pada abad ke 14 memasuki era peralihan (Renaisans) dimana konstruksi budaya bangsa Eropa mulai berubah. Terjadi transformasi besar - besaran khususnya dibidang intelektual. Perubahan tersebut kian terasa ketika era mesin uap diciptakan. Tepat ketika mesin uap mulai dikenal di bangsa Eropa, mulai terjadi perubahan lagi pada kondisi masyarakat. Melalui munculnya terknologi mesin tersebut, dimulailah era baru manusia yakni era modernitas

    Modernisme ialah konsep yang berhubungan dengan hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya pada zaman modern. Konsep modernisme ini meliputi banyak bidang ilmu (termasuk seni dan sastra) dan setiap bidang ilmu tersebut memiliki perdebatan mengenai apa itu 'modernisme'. Walaupun demikian, 'modernisme' pada umumnya dilihat sebagai reaksi individu dan kelompok terhadap dunia 'modern', dan dunia modern ini dianggap sebagai dunia yang dipengaruhi oleh praktik dan teori kapitalisme, industrialisme, dan negara-bangsa. Tetapi dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang sering terjadi masalah akibat sebuah modern ini. Maka dari itu mulailah muncul para pemikir dan menciptakan kelompok - kelompok yang mengkritisi modernisme ini. Kelompok ini melayangkan kekecewaannya sebab sejak dimulainya era Renaisans hingga masa modern, masyarakat terlalu mendewakan tentang rasionalitas dan akal pikiran hingga menganggap remeh permasalahan sosial. Pada kenyataannya, semua tidak seperti apa yang diharapkan. Seperti yang dipaparkan seorang cendekiawan bernama Ulrich Beck, era modern mulai menimbulkan permasalahan kompleks seperti pencemaran alam dan melahirkan penyakit masyarakat berupa kultur instan dan konsumtif. Ulrich Beck menyebut, era modern membuat hidup manusia semakin beresiko tiap harinya. Lebih jauh lagi, Anthonny Giddens menyebutkan bahwa pada era modern kehidupan manusia memiliki resiko yang tinggj. Resiko ini hadir mengiringi terbentuknya sebuah birokrasi. 

    Teori postmodern atau postmodernism (Felluga, 2007) merupakan sebuah gerakan intelektual yang lahir sebagai respon terhadap beberapa tema yang dikemukakan oleh kaum modern atau modernis yang diartikulasikan pertama kali selama masa Pencerahan. Era postmodernisme sendiri hanya dibatasi pada akhir abad 20. Beberapa ahli terkadang menyebutkan bahwa era postmodernisme dimulai setelah Perang Dunia II berakhir karena adanya kekecewaan eksistensial akibat terjadinya Holocaust.


Kritik - kritik terhadap modernisme terbagi dalam tiga aliran filsafat, yakni:

1. Kelompok filsafat yang cenderung menginginkan kembalinya era pramodern atau disebut kelompok metafisika new age 

2. Kelompok filsafat yang cenderung merevisi modernisme melalui merubah premis - premis modern seperti sains yang dianggapnya sebagai salah satu ideologi yang memakai kebenaran ilmiah sebagai patokan yang absolut.

3. Kelompok filsafat yang terikat pada dunia sastra dan banyak yang membahas persoalan linguistik dimana kelompok ini memperkenalkan pemikirannya dengan kata kunci dekonstruksi

 Dalam kelompok ke 3 ini terdapat 2 pendapat yaitu dari Faucault dan Derrida

A. Faucault

    Dalam tulisannya, Faucault banyak terinspirasi oleh Nietzsche daan strukturalisme. Dalam kaitannya dengan perkembangan postmodernisme, Faucault menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang dibatasi oleh lingkungannya dan rasionalitas akan selalu mengalami perubahan sepanjang sejarah. Keterbatasan manusia tersebut lahir akibat dari adanya sebuah kekuasaan yang mengikat manusia. Kekuasaan ini dijelaskan oleh Faucault sebagai buah dari adanya relasi yang dijalin manusia. Jadi selama terjadi relasi antar manusia maka akan muncul kekuasaan - kekuasaan diantara relasi tersebut. Kekuasaan ini tidak datang dari luar, melainkan kekuasaan  menentukan susunan, aturan dan hubungan-hubungan dari dalam dan memungkinkan semuanya terjadi. Hal ini senada dengan pemikiran Anthony Hidden dimana akibat dari adanya kekuasaan melahirkan sebuah birokrasi yang membentuk beban baru manusia.

B. Derrida

Fokus pembahasan yang diangkat Derrida ialah pada filsafat linguistik dengan kaitan dekontruksi. Derrida membuat gagasan tentang metafor yakni sesuatu yang tidak berarti sama dengan apa yang tertulis melainkan memainkan peranan konteks dan jaringan asosiasi yang membentuknya.

Dalam dekontruksi Derrida, terdapat tiga poin penting yakni:

1. seperti halnya perubahan terjadi terus-menerus, dan ini terjadi dengan cara yang berbeda untuk mempertahankan kehidupan.

2. terjadi dari dalam sistem-sistem yang hidup, termasuk bahasa dan teks.

3. bukan suatu kata, alat, atau teknik yang digunakan dalam suatu kerja setelah fakta dan tanpa suatu subyek interpretasi.

Lebih jauh lagi, postmodernisme menjelaskan bahwa sebuah bentuk universalitas merupakan sebuah kesalahan dimana nilai lokalitaslah yang seharusnya diperhitungkan. Selain itu, postmodernisme menolak adanya pengkotak - kotakan segala hal dan mode informasi yang dijadikan sebagai sebuah komoditas.

Komentar

Postingan Populer