Kritik atas Teori Positivisme dan Munculnya Teori Kritis

    Positivisme sendiri merupakan paham yang dikemukakan oleh Auguste Comte. Dalam penjabarannya sendiri, Teori ini lebih menekankan pada bagaimana sebuah fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial dapat diukur dan dikaji dengan menggunakan paradigma ilmu alam (fisika sosial). Dimana segala permasalahan sosial dapat dijabarkan dengan teknik sains dan dikataakan sebuah ilmu apabila dapat dijabarkan dengan rasional dan bersifat bebas nilai. Seiring berjalannya waktu, Auguste Comte  menjelaskan bahwa kehidupan manusia akan mengalami 3 tahap, tahap teologis, tahap metafsisik dan tahap positivis. Comte percaya bahwa puncak perkembangan ilmu pengetahuan adalah POSITIVISME dan puncak perkembangan Positivisme adalah Sosiologi.

  Dalam perkembangannya, Teori positivisme sendiri mendapatkan kritik dari kelompok cendekiawan. Kelompok ini kemudian membentuk suatu teori baru tentang teori sosilogi kritis. Teori kritis umumnya diasosiasikan dengan Institute for Social Research di Universitas Frankfrut, Jerman, tempat teori ini lahir dan berkembang. Yang menjadi permasalahan dari teori Positivisme adalah  

1. Fenomena alam memiliki karakter yang berbeda dengan fenomena kemanusiaan

2. Karena manusia itu kompleks dan unik, maka ilmu sosial kemanusiaan mestinya mencari keunikan (ideographic science

    Oleh karena itu, para pengkritis teori Postivisisme menganggap bahwa kehidupan sosial tidak dapat disamakan dengan paradigma ilmu alam yang memiliki konsep-konsep yang bersifat tetap dan pasti, karena hukum sosial yang dinamis tidak dapat diperlakukan seolah alamiah dan kemudian dibekukan secara ontologis. 

    Teori kritis juga memaparkan secara komprehensif melalui kritikannya terhadap teori positivisme dimana masih banyak problem pada teori positivis yang berakibat fatal apabila diteruskan dalam menilai manusia dan gejala sosialnya. Problem ini diantaranya ialah:

1. Manusia itu bersifat komplek dan unik bukan sekedar angka dan objek kajian.

2. Ilmu sosial tidak akan bisa bebas nilai sebab akan selalu ada kepentingan yang tersembunyi pada akar - akar nilai ilmu sosial.

3. Ilmu sosial terus mengalami pergerakan dan senantiasa mencari jalan agar berkelanjutan

4. Pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan manusia bukan hanya cerminan dengan apa yang ada di luar, tetapi juga terdapat konstruksi di dalamnya.

Dengan segala kritikan yang sudah terbukti ada dalam tubuh teori positivisme menunjukkan bahwa posisi manusia memang tidak bisa disamakan dengan segala problematika alam.


Komentar

Postingan Populer